PTERIDHOPHYTA (Tumbuhan Paku)

Assalamualaikum wr wb
Salam Belajar Biologi


Semoga Sahabat Belajar semua dalam kondisi sehat ya. Pernah kan kalian melihat tanaman kayak tanduk rusa yang nempel di pepohonan? mungkin beberapa dari kalian menyangka itu benalu, namun sebenarnya bukan lho sob.... Tumbuhan itu sebenarnya masuk dalam golongan tumbuhan paku. 
Nah, Hari ini kita belajar materi selanjutnya yaitu Pteridophyta aliyas TUMBUHAN PAKU ya...

CIRI-CIRI TUMBUHAN PAKU
Tumbuhan paku memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
  1. Berbeda dengan tumbuhan lumut, tumbuhan paku sudah memiliki akar, batang, dan daun sejati. Oleh karena itu, tumbuhan paku termasuk kormophyta berspora.
  2. Baik pada akar, batang, dan daun, secara anatomi sudah memiliki berkas pembuluh angkut, yaitu xilem yang berfungsi mengangkut air dan garam mineral dari akar menuju daun untuk proses fotosintesis, dan floem yang berfungsi mengedarkan hasil fotosintesis ke seluruh bagian tubuh tumbuhan.
  3. Habitat tumbuhan paku ada yang di darat dan ada pula yang di perairan serta ada yang hidupnya menempel.
  4. Pada waktu masih muda, biasanya daun tumbuhan paku menggulung dan bersisik. Daun paku ada yang kecil yang disebut dengan mikrofil, ada pula yang berukuran besar yang disebut dengan makrofil. Tumbuhan paku dalam hidupnya dapat bereproduksi secara aseksual dengan pembentukan gemmae dan reproduksi seksual dengan peleburan gamet jantan dan gamet betina.
  5. Dalam siklus hidup (metagenesis) terdapat fase sporofit, yaitu tumbuhan paku sendiri.
  6. Memiliki klorofil sehingga cara hidupnya hidupnya fotoautotrof.

KLASIFIASI TUMBUHAN PAKU
KLASIFIKASI BERDASARKAN JENIS SPORA
Paku homospora
Tumbuhan paku ini mempunyai spora berumah satu dan berukuran sama besar yang dinamakan paku homospora/isospora. Contoh jenis paku ini adalah suplir (Adiantum cuneatum) dan paku kawat (Lycopodium).

Paku Heterospora
Jenis paku ini menghasilkan spora dengan jenis dan ukuran yang berbeda, yaitu spora jantan dan spora betina. Spora jantan memiliki ukuran yang lebih kecil, atau biasa disebut sebagai mikrospora dan spora betina memiliki ukuran yang lebih besar, atau biasa disebut sebagai makrospora. Contohnya adalah Marsilea crenata (semanggi) dan Selaginella widenowii.

Paku peralihan
Jenis paku ini sporangiumnya menghasilkan spora sama besar, tetapi berbeda jenis kelaminnya, sehingga disebut dengan tumbuhan paku peralihan. Tumbuhan paku ini dianggap sebagai bentuk peralihan antara paku homospora dan heterospora, misalnya paku ekor kuda (Equisetum debile). Apabila spora jatuh ke tanah sebagian akan tumbuh menjadi protalium jantan dan sebagian tumbuh menjadi protalium betina.


KLASIFIKASI LINAEUS
Tumbuhan paku juga dapat digolongkan dalam klasifikasi. Tumbuhan paku dapat diklasifikasikan menjadi 2 divisio, yaitu: Divisio Lycophyta dengan kelas Lycopodiopsida dan Divisio Pteridophyta dengan Kelas Psilotopsida, Equisetopsida, serta Kelas Pteridopsida

Divisi : Lycopodiophyta / Lycophyta (Paku Kawat)
Kelas : Lycopodiopsida.
Divisio Lycopodiophyta (ada yang menyebut Lycophyta) adalah sekelompok tumbuhan berpembuluh (Trachaeophyta) yang menjadi bagian dari Kerajaan Tumbuh-tumbuhan (Plantae). Kelompok ini dianggap sebagai tumbuhan berpembuluh yang termasuk tertua yang masih bertahan hingga masa kini, dengan fosil-fosilnya ditemukan berumur hingga 410 juta tahun lalu. Tumbuhan paku ini mempunyai ciri-ciri 
  • bentuk daun kecil-kecil, 
  • tidak bertangkai, 
  • batang seperti kawat 
  • akarnya bercabang-cabang, 
  • selalu bertulang satu. 
  • pada beberapa jenis, daunnya mempunyai lidah-lidah (ligula), 
  • daunnya yang amat banyak tersusun rapat menurut garis spiral. 
  • Sporangium terdapat pada ketiak daun dan berkumpul membentuk seperti kerucut yang disebut strobilus. 
  • Paku kawat menghasilkan satu jenis spora (homospora) dan dua jenis spora (heterospora).
  • Gametofit berukuran kecil dan tidak berkrolofil. 
  • Gametofit menghasilkan dua jenis alat kelamin (biseksual), dan satu jenis alat kelamin (uniseksual). 
  • Contohnya adalah Lycopodium elavatum, dan Selaginela sp. 
 
Gambar 1. Lycopodium (a) dan Selaginela (b)
Sumber: http://www.artikelsiana.com


Divisio Pteridophyta 
Kelas Psilotopsida ( (Paku Telanjang)
Jenis paku ini sebagian besar telah punah. 
  • Paku purba (Psilopsida) mempunyai struktur tubuh yang sederhana, 
  • tinggi sekitar 30 cm -1 m. 
  • Sporofit (2n), umumnya tidak memiliki daun dan akar sejati, namun memiliki rizom yang disekelilingnya terdapat rizoid. 
  • Daun paku purba (psilopsida) memiliki ukuran kecil (mikrofil) yang berbentuk sisik. 
  • Batang paku purba (psilopsida) bercabang-cabang dikotomus, berkrolorofil, dan sudah memiliki sistem vaskuler (pembuluh) dalam mengangkut air dan garam mineral. 
  • Sporangium dibentuk di ketiak ruas batang. 
  • Sporangium menghasilkan satu dari jenis pora yang memiliki bentuk dan ukuran yang sama (homospora). 
  • Gametofit (n) tersusun atas se-sel yang tidak memiliki klorofil sehingga pada zat organik didapatkan dari simbiosis dengan jamur. 
  • Contoh tumbuhan paku ini adalah Rhynia major dan Psilotum sp.
Gambar 2. Struktur Tubuh Psilotum
Sumber: http://asharibs.blogspot.com

Kelas Sphenopsida atau Equisetopsida (Paku Ekor Kuda)
Peku ekor kuda disebut juga dengan club moss (lumut ganda) atau ground pine (pinus tanah), beberapa diantaranya juga disebut bamboo air namun yang sebernanya bukan merupakan lumut, pinus atau bambu. Tumbuhan ini sampai sekarang masih hidup, umumnya berupa herba yang menyukai tempat-tempat lembap, biasanya hidup di dataran tinggi. 
  • Paku ekor kuda mempunyai daun-daun kecil seperti selaput dan tersusun seperti karang
  • Daunnya terdapat di setiap buku, melingkar, dan berbentuk sisik. 
  • Batangnya mirip dengan daun cemara, berongga, berbuku-buku, dan tumbuh tegak.
  • Sporofil selalu berbeda dengan daun biasa, sporofil ini berbentuk perisai dengan sejumlah sporangium pada sisi bawahnya. Semua sporofil tersusun dan merupakan suatu badan berbentuk gada/kerucut pada ujung batang/cabang. 
  • Protaliumnya berwarna hijau dan berkembang di luar spora.
  • Contoh paku ekor kuda adalah Equisetum debile
Gambar 3. Struktur tubuh Equisetum sp.
Sumber: https://www.plantscience4u.com/2016/06/notes-on-equisetum-systematic-position.html

Kelas Pteridopsida (Paku Sejati)
Paku sejati dikenal sebagai tumbuhan paku/pakis yang sebenarnya atau paku sejati, dengan nama lain Polypodiopsida atau yang dulu disebut Filicinae.  Memiliki ciri-ciri:
  • Mempunyai daun-daun besar (makrofil), 
  • Bertangkai, mempunyai banyak tulang/percabangan, 
  • Pada waktu masih muda daun itu tergulung pada ujungnya, dan pada sisi bawah mempunyai banyak sporangium. 
  • Terdapat beberapa jenis daun dari tumbuhan paku yaitu tropofil dan sporofil. Daun Tropofil, yaitu daun yang tidak menghasilkan spora, tetapi memiliki zat hijau daun (klorofil), sehingga berfungsi dalam proses fotosintesis atau menghasilkan zat makanan (glukosa). Daun ini sering disebut sebagai daun steril. Daun Sporofil, yaitu daun yang menghasilkan spora sebagai alat perkembangbiakan (reproduksi), sehingga daun ini disebut juga daun fertil (subur). 
  • Di bagian bawah sporofil terdapat sorus, yaitu kumpulan bulatan kecil berwarna cokelat yang mengandung banyak kotak spora (sporangium). Pada sporangium terdapat sel penutup yang menyerupai cincin yang disebut annulus
  • Sorus dilindungi oleh suatu struktur berupa selaput yang disebut indusium.

Gambar 7.7. Struktur tubuh Pteropsida (Paku Sejati)
Sumber: http://de-fairest.blogspot.com/2014/01/tumbuhan-paku-pakuan-pteridophyta.html


METAGENESIS PTERIDHOPHYTA (TUMBUHAN PAKU)
Pada metagenesis tumbuhan paku, baik pada paku homospora, paku heterospora, ataupun paku peralihan, pada prinsipnya sama. Ketika ada spora yang jatuh di tempat yang cocok, spora tadi akan berkembang menjadi protalium yang merupakan generasi penghasil gamet atau biasa disebut sebagai generasi gametofit, yang akan segera membentuk anteredium yang akan menghasilkan spermatozoid dan arkegonium yang akan menghasilkan ovum. Ketika spermatozoid dan ovum bertemu, akan terbentuk zigot yang diploid yang akan segera berkembang menjadi tumbuhan paku. Tumbuhan paku yang kita lihat sehari-hari merupakan generasi sporofit karena mampu membentuk sporangium yang akan menghasilkan spora untuk perkembangbiakan. Fase sporofit pada metagenesis tumbuhan paku memiliki sifat lebih dominan daripada fase gametofitnya.

Gambar 7.8. Metagenesis Tumbuhan Paku (a) Homospora (b) Heterospora (c) Peralihan
Sumber: https://aslam02.wordpress.com/materi/kelas-x-2/kingdom-plantae/tumbuhan-paku-pteridophyta/
 
Peranan Pteridophyta (Tumbuhan Paku) bagi Kehidupan
Dalam kehidupan sehari-hari, tumbuhan paku berperan bagi manusia. Perenan tersebut antara lain:
  1. Sebagai tanaman hias, misalnya Adiantum cuneatum (suplir), Asplenium nidus (paku sarang burung), paku tiang (Alsophila galuca), dan Platycerium biforme (paku simbar menjangan)
  2. Sebagai tanaman obat, misalnya rimpang dari Aspidium filixmas (Dryopteris) yang mampu mengobati cacingan dan Lycopodium clavatum.
  3. Sebagai pupuk hijau, yaitu Azolla pinnata yang bersimbiosis dengan Anabaena azollae, yang dapat mengikat nitrogen bebas dari udara.
  4. Sebagai sayuran, contohnya adalah Marsilea crenata (semanggi).
  5. Sebagai bahan bakar. Pada zaman dahulu fosil tumbuhan paku membentuk batu bara yang dapat digunakan untuk bahan bakar.

Nah, Gimana sob....???
Mudah kan materinya. Hanya cukup mengenal apa yang ada di sekitar kita ya.
InsyaAllah jika ada kemauan pasti ada jalan

Pandanglah di sekitarmu, lihatlah dengan seksama.
Disana banyak ciptaan Tuhan yang akan membuatmu terpana
Terpana karena ketaatannya, terpukau karena ketundukannya

Sampai disini dulu ya sob...
Kita lanjut di LMS
Wassalamualaikum wr wb
Salam Belajar Biologi


Faisal Imam Prasetyo😏
Pak Dhe Fais Channel